Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Musik. Show all posts
Showing posts with label Musik. Show all posts

Sunday, December 16, 2012

Piyu: Boyband Sekarang Harus Diberi Pelajaran



Gitaris grup PADI yang juga pencipta lagu sekaligus produser musik, Satriyo Yudi Wahono atau Piyu, melihat bahwa boyband dan girlband tak akan berumur panjang.
"Aku bilang, boyband tidak punya masa depan. Mereka hanya pengekor, kebanyakan masih lipsync, dan hanya mengandalkan dance. Tapi, bukannya saya enggak suka boyband. Saya suka kok sama NSYNC, Backstreet Boys. Tapi, boyband kebanyakan masih lipsync. Boyband kayak gitu harus diberi pelajaran," ujar Piyu dalam wawancara di Studio Gaharu, Cipete, Jakarta Selatan, Kamis (15/3/2012).
Piyu bukan tanpa alasan melontarkan kritik itu. Beberapa syarat untuk menjadi artis musik yang akan bertahan lama, menurut Piyu, belum semuanya dipenuhi oleh boyband dan girlband Indonesia. "Boyband dan girlband itu fenomena yang akan diseleksi. Syarat artis musik bisa bertahan lama itu punya good performance, good skill. Jangan sampai, baru terkenal sudah enggak mau diwawancara dan sudah mulai telat latihan. Perlu juga dipertanyakan, apakah mereka mencipta lagu sendiri. Nah, variabel-variabel ini yang harus diperhatikan," ujar Piyu lagi.
Kalaupun kini PADI sedang vakum, bagi Piyu bukan berarti PADI—Piyu, Fadli (vokal), Ari (gitar), Rindra (bas), dan Yoyok (drum)—telah tersingkir dari industri musik dalam negeri akibat menjamurnya boyband dan girlband. "Saya masih ada karya, tapi nanti, tunggu dululah, sampai ada waktu yang tepat. Kalau tujuannya hanya menyaingi boyband dan girlband, itu bukan alasan yang tepat. Kalau dibilang saya takut, ya saya takut dari sisi bisnisnya. Ini kan investasi yang besar, bisa lebih dari ratusan juta. Ini bukan salah pembelinya, melainkan industrinya yang belum bisa memperbaiki law enforcement setelah RBT terpukul dan pembajakan yang semakin marak," ungkap Piyu.

Sumber: Kompas.com

BoyBand Lokal Masih Culun



RestuLangit7-Penyanyi sekaligus guru vokal Bertha McCarthy menilai kualitas boyband dan girlband lokal masih jauh dari standar rata-rata. Apalagi jika dibandingkan grup idola dari Korea Selatan yang memang mendapat pelatihan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya dirilis. Guru vokal penyanyi Dewi Sandra ini merasa para remaja yang memilih gabung di grup boyband dan girlband juga belum matang dalam hal berpikir. “Kalau saya pikir mereka itu masih culun (anak yang sedang beranjak dewasa), belum tahu banyak harus seperti apa. Tapi ya yang namanya ABG mereka seneng-seneng aja, mereka juga enggak tahu requirement yang dibutuhkan seperti apa,” ungkap Bertha saat berbincang di Jakarta, kemarin. Walau begitu, dia masih merasa optimis kualitas vokal grup boyband dan girlban lokal bisa ditingkatkan asal giat berlatih. “Jaman sekarang sudah berubah, mereka harus bisa bertanggung jawab apa dengan yang mereka lakukan. Jadi menurut saya, kalau mau jadi boyband jadilah boyband yang total,” ungkapnya.

Sumber: www.iyaa.com

Saturday, December 15, 2012

6 Fakta Tentang Boyband Indonesia



Siapa yang tidak tahu boyband? Kata boyband pada jaman sekarang ini sudah sangat familiar sekali. Boyband adalah sebuah grup yang berisikan “cowok-cowok” (bukan cewek) yang lagi nge-Hits di pasaran musik Indonesia.
Berikut ini adalah 6 fakta menarik mengenai boyband Indonesia.
1.             Lypsinc Bukan Nyanyi. 
Kebanyakan boyband Indonesia , hanya me-Lypsinc lagu yg mereka bawakan, tidak bernyanyi beneran cuma menggerak-gerakan mulut menyesuaikan rekaman lagu yang diputar. Parahnya apabila lypsinc mereka tidak pas sangat terlihat aneh dan malu-maluin.


2.             Pupur atau Bedak yang Berlebihan. 
Siapa sangka, boyband pake bedak. Faktanya semenjak boyband muncul, penjualan bedak di indonesia meningkat drastis.

3.             Nama Boyband yang Plagiat.
Ini tidak usah ditanya lagi beberapa boyband memakai nama boyband yang sudah terkenal luar negeri. Ketika ditanya, alasannya banyak lah.
“Kami tidak tahu kalau ada boyband yg namanya sama seperti kami…”, kata seorang personil boyband tersebut.
4.             Lagu juga Plagiat. 
Kalau yang satu ini sungguh parah. Beberapa boyband mengambil jalan pintas dengan memplagiat lagu milik orang lain yang sudah terkenal untuk membuat lagu mereka diterima di industri musik Indonesia.
Yang dimaksud plagiat di sini adalah mengganti lirik sebuah lagu dan mengganti sedikit aransemen lagu miliki orang lain. Biasanya lagu yang diplagiat adalah lagu asing, baik lagu Inggris, Jepang maupun Korea.
Hal ini sebenarnya sangat memalukan, apakah industri musik di Indonesia hanya bisa memplagiat lagu luar negeri, kalau pemilik asli lagu tersebut mengetahuinya bisa-bisa marah dan meminta pertanggung jawaban atau mungkin heran dan ketawa apakah Indonesia suka memplagiat lagu milik orang. Seharusnya hal-hal seperti ini harus dihindari, tunjukan bahwa industri musik Indonesia memiliki kreativitas yang tinggi.

5.             Tarian seperti Perempuan. 
Wow, gayanya ga nahan. Banyak boyband yang memiliki tarian yang aneh dan lebay. Melihat tariannya membuat mereka kaya cewe aja.

6.             Semua Personil Laki-laki. 
Ya iyalah, namanya juga boyband (boy artinya laki laki) pasti semua laki-laki lah. Banyak masyarakat di Indonesia yang kurang begitu menerima boyband, khususnya para lelaki.
Menurut mereka boyband itu adalah hal yang menggilakan, melihat sekelompok cowok-cowok bernyanyi dan bergaya super lebay menurut para penonton cowok itu sangat menggilakan. Andai ada satu atau dua cewek dalam grup tersebut mungkin banyak penonton cowok yang menyukai grup tersebut. Tapi kalau ada salah satu personilnya adalah cewek namanya bukan boyband lagi

boyband Indonesia Kehilangan Identitas



Illustrasi Blogger
Oleh : Dr.Andri,SpKJ

“liat  di TV bergaya Korea kagak pantas banget…jadi kaya  termasuk identitas gender-nya…Sadarlah”

Kalimat di atas adalah status saya di Facebook pagi tadi. Banyak juga yang “like” status itu dan ada juga yang berkomentar apakah itu suatu gangguan jiwa. Memang kalau saya berkomentar tentang sesuatu hal yang negatif, biasanya para teman facebookers saya langsung menanggapi dengan apakah itu termasuk gangguan jiwa. Bahkan ada yang mengusulkan untuk menuliskan artikel mengenai hal ini. Jadi inilah artikel hasil “ajakan” facebooker di FB saya.

Sebenarnya saya menulis status itu bukan tanpa sebab. Saya melihat beberapa hari yang lalu di suatu acara musik yang begitu banyak di stasiun TV Indonesia muncul sebuah kelompok boyband Indonesia yang meniru gaya korea baik dandanan maupun gaya tarinya. Lagu dan suara penyanyinya bisa dibilang sangat biasa, tapi gaya berpakaian dan gaya dandanannya yang bikin saya kaget sekaligus prihatin.

Mungkin meniru gaya korea yang kadang penyanyinya berdandan cross gender, boyband Indonesia yang isinya anak-anak muda tanggung ini pun bergaya seperti itu. Rambut dicat warna ngejreng dengan dandanan muka yang lebih menyerupai lawan jenisnya, tebal dan pake riasan yang biasanya dipakai oleh kaum hawa. Bajunya pun tak kalah heboh, jeans ketat dipadu dengan baju-baju ala anak boyband (yang saya sendiri gak tahu ini seperti apa) ditambah dengan aksesoris yang sepertinya memang aksesoris transgender.

Saya jadi berpikir apakah ini artinya si anggota boyband ini memang bukan hanya kehilangan selera lokal dalam bernyanyi tetapi juga kehilangan identitas diri (dan gendernya) juga? Pertanyaan ini saya tampilkan karena dalam ilmu kedokteran jiwa, transgender termasuk dalam suatu kondisi gangguan kejiwaan. Dia bukanlah suatu identitas seksual (seperti homoseksual) yang “dianggap” bukanlah gangguan jiwa di dalam ilmu kedokteran jiwa. Mungkin hal ini pun bisa memicu kontroversi, tetapi saya hanya mengatakan sebatas apakah ini menurut kedokteran jiwa termasuk gangguan jiwa atau tidak.

Berpakaian ala lawan jenis adalah juga suatu karakteristik gangguan jiwa yang termasuk dalam transgender. Selain itu memakai make-up yang sehubungan dengan karakter lawan jenisnya juga demikian. Ini merupakan suatu gangguan jiwa yang mulai muncul sejak masa remaja dan berlanjut sebagai suatu kondisi kebingungan gender di masa dewasanya.

Tidak heran sejak kecil kita oleh orang tua kita dikondisikan untuk “mengisi” identitas gender kita dengan simbol-simbol simbolik khas masing-masing gender. Laki-laki oleh ayahnya dibelikan mainan mobil-mobilan, pistol, pedang, robot-robotan, mainan kuda dan topi koboi sedangkan perempuan dibelikan perangkat masak, boneka barbie, alat-alat make up mainan. Ini adalah upaya awal bagi orang tua memperkenalkan identitas gender kepada anaknya lewat jalan simbolik dengan alat-alat permainan. Selanjutnya nanti akan terlihat peran yang dibedakan antara anak laki-laki dan perempuan. Secara natural kita semua sebagai orang tua ataupun dulu ketika masih kecil mengingat peran gender yang berbeda ini diberikan.

Apa yang ditampilkan oleh beberapa boyband Indonesia bergaya korea itu apakah bukan menjadi sumber kebingungan anak muda yang menontonnya? Apalagi anak-anak yang sedang mencari identitas dirinya. Saya hanya prihatin terhadap keadaan ini. Tanpa sadar kita sudah diberondong oleh budaya baru yang lama-lama bisa menghilangkan akar budaya kita sendiri apalagi sasarannya adalah anak muda. Di lain pihak, gaya para personel boyband yang menampilkan penampilan transgender dalam sisi make up juga bisa menimbulkan kebingungan dari para pemirsa anak muda tentang kondisi identitas gender itu sendiri.

Apakah anda punya pikiran yang sama dengan saya?

Salam Sehat Jiwa