Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Religi. Show all posts
Showing posts with label Religi. Show all posts

Sunday, December 16, 2012

Allah Memberi Yang Terbaik Menurut Pandangan-Nya


Terkadang yang baik menurut pandangan manusia belum tentu baik menurut pandangan Allah. Dan yang buruk menurut pandangan manusia belum tentu buruk menurut pandangan Allah. Bisa jadi yang baik menurut pandangan manusia ternyata buruk menurut pandangan Allah dan sebaliknya yang buruk menurut pandangan manusia bisa jadi itu lah yang baik menurut pandangan Allah.
Hari ini, mendengan kabar yang menyenang dari seorang teman yang mendapatkan beasiswa S3 ke luar negeri dari pemerintah. Dia dan suaminya berhasil mendapatkan beasiswa itu bersama-sama sehingga keduanya pun bisa belajar di Negara yang sama dengan waktu yang sama. Sungguh indah hidup teman saya ini menurut pandangan saya. Lulus kuliah lansung menikah, mendaftar CPNS dan lansung lulus ditempatkan di sekolah favorit di suatu kota. Tak lama setelah menikah memiliki anak, sepasang putra dan putri. Memiliki rumah sendiri, bukan hanya 1 rumah tapi lebih dari itu ditambah dengan tanah yang luas. Dia pun mendapatkan kesempatan untuk kuliah S2, dan tidak lama setelah lulus saya pun mendengar dia dan suaminya berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa S3 ke luar negeri.
Menurut pandangan saya, lengkap dan begitu indahnya hidup teman saya ini. Kehidupan rumah tangga, karier dan pendidikannya sangat sukses. Terbersit dalam hati kecil saya, saya pun ingin merasakan indah dan nikmat hidup seperti teman saya tersebut. Menikah dengan pendidikan dan karier yang cemerlang. Tapi sungguh keadaan saya ini sangat bertolak belakang sekali dengan keadaan teman saya tersebut. Menikah belum, pekerjaan masih serabutan alias belum stabil, pendidikan pun cukup puas dengan S1, keinginan untuk melanjutkan pendidikan sangat kuat tapi keadaan ekonomi yang kurang kuat. Ada kalanya terlintas dalam hati saya sebagai manusia biasa. Ya Allah, kenapa saya tidak mendapatkan hal-hal menyenangkan seperti hidup teman saya tersebut. Dengan usia yang tahun ini mencapai usia 30 tahun, kenapa belum ada laki-laki yang berperan menjadi suami saya, qowwam saya. Kenapa sampai saat ini, saya belum juga diangkat menjadi PNS, kenapa Engkau sangat baik kepada orang lain tapi Engkau ‘pelit’ sekali kepada saya. Banyak pertanyaan kenapa yang memenuhu kepala saya. Seeprtinya saya ini tidak puas dengan apa yang telah Allah berikan kepada saya. Sepertinya Allah tidak adil kepada saya.
Astagfirulloh, seharusnya saya banyak beristigfar. Sungguh seharusnya kita yakin dan berbaik sangka kepada Allah. Allah tidak akan tidak pernah adil kepada hamba-Nya. Allah Yang Maha Tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya, termasuk saya. Yang baik buat teman saya belum tentu baik buat saya. Yang indah buat untuk teman saya belum tentu indah buat saya di dalam pandangan Allah.
Inilah manusia, selalu tidak puas dengan keadaan hidupnya. Selalu merasa ketidakadilan. Kerap kali lupa bahwa Allah telah menetapkan rezeki masing-masing dari tiap hamba-Nya. Dan Allah pun akan menilai dan memberi sesuai dengan ikhtiar yang dilakukan oleh hamba-Nya. Mungkin saja Allah menganggap bahwa kit belum pasntas untuk mendapatkan apa yang seharusnya Allah akan berikan. Mungkin saja saat ini saya belum pantas untuk mendapatkan apa yang teman saya itu dapatkan. Belum pantas untuk menikah, belum pantas untuk menjadi PNS, belum pantas untuk meneruskan kuliah. Karena saya belum memantaskan diri utnuk mendapatkan itu semua. Atau bisa jadi menurut pandangan Allah, ilmu dan iman saya belum pantas mendapatkan itu semua. Bisa jadi Allah saat ini sedang mempersiapkan saya untuk pada suatu saat nanti pantas untuk memegang amanah menjadi seorang istri, siap memegag amanah menjadi seorang PNS, dan siap memegang amanah dengan pendidikan yang saya dapatkan. Karena jika semua yang kita dapatkan itu tidak untuk Allah semata maka akan sia-sia. Akan sia-sia ketika kita melalaikan amanah kita sebagai istri dan ibu dalam sebuah rumah tangga. Akan sia-sia ketika kita melalaikan tugas sebagai PNS, yaitu melayani umat. Alan sia-sia ketika pendidikan tinggi yang kita miliki ternyata tidak memberika maslahat pada umat. Seharusnya kita sebagai umat Islam, khususnya saya menyadari bahwa keindahan hidup seperti menikah, punya anak, menjadi PNS, sekolah tinggi bukanlah amanah yang ringan. Banyak yang harus dipersiapkan untuk menjalankan amanah tersebut. Ketika semua keindahan hidup tersebut hanya menjadi lembaran untuk memenuhi halaman buku kehidupan kita saja tanpa memberi arti bagi kehidupan orang lain maka akan sia-sia belaka, tanpa memberikan maslah pada banyak orang maka akan sia-sia saja.
Maka, seharusnya bukan mengeluh dan mempertanyakan ketidakadilan Allah saja. tapi diri kita yang harus memantaskan diri untuk mendapatkan yang terbaik dari Allah. Dan yakinlah bahwa Allah memang akan memberikan yang baik menurut pandangan-Nya buangan pandangan manusia. Allah akan memberikan sesuatu sesuai dengan nilai kepantasan yang kita miliki. Wallahu’alam

Tuesday, November 6, 2012

Nabi Ibrahim, Ksatria Penakluk Nalar


Nabi Ibrahim, Ksatria Iman Penakluk Nalar

Dalam Islam, tokoh terpenting setelah Nabi Muhammad adalah Nabi Ibrahim. Indikasi pentingnya Nabi Ibrahim adalah:
  • Hanya Ibrahim yang namanya wajib disebut dalam bacaan tahiyat akhir setiap sholat disamping Muhammad. Tanpa mendo'akan dia, tidak sah sholat kita.
  • Hanya Ibrahim yang episode hidupnya dirayakan sebagai hari raya. Idul Adha dan ibadah kurban adalah mengenang saat Ibrahim menyembelih Ismail.
  • Hanya Ibrahim yang episode hidupnya dirayakan dalam salah satu rukun Islam, yaitu ibadah Haji. Sa'i adalah mengenang Hajar yang berlari mengejar fatamorgana air setelah ditinggal Ibrahim ditengah gurun. Lempar jumrah adalah mengenang Ibrahim yang melempar iblis saat mencegahnya menyembelih Ismail.
  • Ka'bah yang merupakan arah ibadah umat Islam adalah bangunan yang didirikan oleh Ibrahim dan anaknya.

Apa yang bisa dan harus dicontoh dari Ibrahim sehingga Allah memberikan penghormatan sedemikian besar?

Jika SBY dapat gelar "Knight Grand Cross of the Order of Bath", maka Ibrahim cocok sebagai "Grand Knight of Faith" - Ksatria Iman. Ibrahim adalah pembela sejati iman, baginya iman adalah diatas segalanya.
Apa saja yang telah dilakukan Ibrahim dalam membuktikan dirinya sebagai Ksatria Iman?
Berikut ini daftar yang bisa kita susun:
  • Iman lebih penting dari orang tua dan masyarakat.
    Ibrahim berani menentang bapaknya dan masyarakat dimana ia hidup, saat ia menemukan bahwa agama dan sembahan bapaknya serta masyarakatnya tidak lagi sesuai dengan Tuhan yang baru ia temukan. Ia merusak patung para dewa dan berani menentang bapak dan norma masyarakatnya - apapun resikonya. Ia tidak takut kehilangan nyawanya.
  • Iman lebih penting dari anak, istri, pertimbangan kemanusiaan dan akal sehat.
    Saat Ibrahim diperintahkan meninggalkan istri dan anaknya yang masih bayi ditengah gurun, ia melaksanakannya. Meninggalkan ibu dengan bayinya ditengah gurun tanpa bekal dan naungan adalah sama dengan membunuhnya, perintah itu sama dengan "bunuh anak dan istrimu!". Ia melaksanakan dengan patuh dan tanpa protes. Iman lebih penting dari akal sehat, kemanusiaan, kasih sayang kepada istri dan anak.
  • Penegasan Iman lebih penting dari anak, pertimbangan kemanusiaan dan akal sehat.
    Saat Ibrahim mendapatkan mimpi untuk menyembelih anaknya, ia melaksanakannya. Perintah menyembelih anak jauh lebih jelas tujuannya daripada meninggalkannya di gurun. Mimpi itu adalah versi vulgar dari perintah "bunuh anakmu!". Ia melaksanakan dengan patuh dan tanpa protes. Iman lebih penting dari akal sehat, kemanusiaan, kasih sayang kepada istri dan anak.
  • Bila menyangkut iman, tidak perlu ada verifikasi.
    Perintah menyembelih Ismail datang melalui mimpi. Itu adalah sumber yang sangat tidak bisa diandalkan kebenarannya, mimpi adalah bunga tidur yang seringkali tanpa arti, sejajar dengan lamunan kosong dan halusinasi. Sumber kosong itu langsung dipercaya Ibrahim karena dianggap berasal dari Allah sebagai pusat keimanannya.
  • Jika mengenai iman, sah untuk mengabaikan logika dan menggunakan kekerasan untuk mempertahankannya. Argumen logis adalah tipu daya. 
    Ketika iblis mencegat Ibrahim saat mendaki bukit untuk menyembelih anaknya, Iblis sama sekali tidak mengajak berbuat jahat, yang dilakukan Iblis adalah mengingatkan akan prosedur logis orang yang berakal, yaitu mengingatkan akan:
    • Verifikasi perintah.
      Apakah Ibrahim sudah melakukan verifikasi kepada Allah bahwa benar Allah memerintahkan menyembelih Ismail seperti dalam mimpinya?
    • Kebenaran perintah.
      Jika Allah Maha Pengasih apa benar ia memerintahkan tindakan yang sama sekali tidak mewakili sifat Maha Pengasih tersebut?
    • Akal sehat, kemanusiaan dan kasih sayang bapak kepada anak, sesuatu yang membuat kita bernilai sebagai manusia.
      Jika perintah iman bertentangan dengan hal yang membuat kita bernilai sebagai manusia, apakah iman tersebut wajar dan patut dituruti?
    Apa yang dilakukan Ibrahim? Ia tidak memberi argumen logis atau melayani perdebatan logika. Ia melempari iblis dengan batu. Ia memakai kekerasan dan bukan akal untuk menghadapi pertanyaan yang sepenuhnya logis tersebut.

Itulah yang bisa kita tarik dari heroisme Ibrahim sebagai Ksatria Iman ...

Jadi apa pendapat para agan?

Monday, October 22, 2012

Tokoh Tasawuf Ibnu 'Araby


Ibnu 'Araby dikenal luas sebagai ulama besar yang banyak pengaruhnya dalam percaturan intelektualisme Islam. Ia memiliki sisi kehidupan unik, filsuf besar, ahli tafsir paling teosofik, dan imam para filsuf sufi setelah Hujjatul Islam al-Ghazali. Lahir pada 17 Ramadhan 560 H/29 Juli 1165 M, di Kota Marsia, ibukota Andalusia Timur (kini Spanyol), Ibnu 'Araby bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatim. Ia biasa dipanggil dengan nama Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu Abdullah. Namun gelarnya yang terkenal adalah Ibnu 'Araby Muhyiddin, dan al-Hatamy. Ia juga mendapat gelar sebagai Syeikhul Akbar, dan Sang Kibritul Ahmar.



Tumbuh besar di tengah-tengah keluarga sufi, ayahnya tergolong seorang ahli zuhud, sangat keras menentang hawa nafsu dan materialisme, menyandarkan kehidupannya kepada Tuhan. Sikap demikian kelak ditanamkan kuat pada anakanaknya, tak terkecuali Ibnu 'Araby. Sementara ibunya bernama Nurul Anshariyah. Pada 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia. Perpindahan inilah menjadi awal sejarah yang mengubah kehidupan intelektualisme 'Araby kelak; terjadi transformasi pengetahuan dan kepribadian Ibnu 'Araby. Kepribadian sufi, intelektualisme filosofis, fikih dan sastra. Karena itu, tidak heran jika ia kemudian dikenal bukan saja sebagai ahli dan pakar ilmuilmu Islam, tetapi juga ahli dalam bidang astrologi dan kosmologi.



Ibnu 'Araby belajar pada banyak ulama, seperti Abu Bakr bin Muhammad bin Khalaf al-Lakhmy, Abul Qasim asy-Syarrath, dan Ahmad bin Abi Hamzah untuk pelajaran Alquran dan Qira'ahnya, serta kepada Ali bin Muhammad ibnul Haq al-Isybili, Ibnu Zarqun al-Anshary dan Abdul Mun'im al-Khazrajy, untuk masalah fikih dan hadis madzhab Imam Malik dan Ibnu Hazm Adz-Dzahiry Ibnu 'Araby membangun metodologi orisinal dalam menafsirkan Alquran dan Sunnah yang berbeda dengan metode yang ditempuh para pendahulunya. Hampir seluruh penafsirannya diwarnai dengan penafsiran teosofik yang sangat cemerlang. "Kami menempuh metode pemahaman kalimat-kalimat yang ada itu dengan hati kosong dari kontemplasi pemikiran. Kami bermunajat dan dialog dengan Allah di atas hamparan adab, muraqabah, hudhur dan bersedia diri untuk menerima apa yang datang dari-Nya, sehingga Al-Haq benar-benar melimpahkan ajaran bagi kami untuk membuka tirai dan hakikat... dan semoga Allah memberikan pengetahuan kepada kalian semua..." ujar Ibnu 'Araby suatu kali.



Pada perjalanan intelektualismenya, Ibnu 'Araby akhirnya menempuh jalan halaqah sufi (tarekat) dari beberapa syeikhnya. Setidaknya, ini terlihat dari apa yang ia tulis dalam salah satu karya monumentalnya Al-Futuhatul Makkiyah, yang sarat dengan permasalahan sufisme dari beberapa syeikh yang memiliki disiplin spiritual beragam. Pilihan ini juga yang membuat ia tak menyukai kehidupan duniawi, sebaliknya lebih memusatkan pada perhatian ukhrawi. Untuk kepentingan ini, ia tak jarang melanglang buana demi menuntut ilmu. Ia menemui para tokoh arif dan jujur untuk bertukar dan menimba ilmu dari ulama tersebut. Tidak mengherankan bila dalam usia yang sangat muda, 20 tahun, Ibnu 'Araby telah menjadi sufi terkenal.



Menurutnya, tarekat sufi dibangun di atas empat cabang, yakni: Bawa'its (instrumen yang membangkitkan jiwa spiritual); Dawa'i (pilar pendorong ruhani jiwa); Akhlaq, dan Hakikat-hakikat. Sementara komponen pendorongnya ada tiga hak. Pertama, hak Allah, adalah hak untuk disembah oleh hamba-Nya dan tidak dimusyriki sedikitpun. Kedua, hak hamba terhadap sesamanya, yakni hak untuk mencegah derita terhadap sesama, dan menciptakan kebajikan pada mereka. Ketiga, hak hamba terhadap diri sendiri, yaitu menempuh jalan (tarekat) yang di dalamnya kebahagiaan dan keselamatannya. Pada hak Allah (hak pertama), dapat dilacak secara sempurna pada seluruh karya Ibnu 'Araby. Di sini, tauhid dijadikan sebagai konsumsi, iman sebagai cahaya hati, dan Alquran sebagai akhlaknya. Lalu naik ke tahap yang tak ada lagi selain al-Haq, yakni Allah SWT. Karakter Ibnu 'Araby senantiasa naik dan naik ke wilayah yang luhur. Kuncinya senantiasa bertambah rindu, dan hatinya jernih semata hanya bagi al-Haq.



Sementara rahasia batinnya bermukim menyertai-Nya, tak ada yang lain yang menyibukkan dirinya kecuali Tuhannya. Ibnu 'Araby menggunakan kendaraan mahabbah (kecintaan), bermadzhab ma'rifah, dan ber-wushul tauhid. Ubudiyah dan iman satu-satunya dalam pandangan 'Araby hanyalah kepada Allah Yang Esa dan Mahakuasa, Yang Suci dari pertemanan dan peranakan. Sementara hak sesama makhluk, ia mengambil jalan taubat dan mujahadah jiwa, serta lari kepada-Nya. Ia gelisah ketika kosong atas tindakan kebajikan yang diberikan Allah, sebagai jalan mahabbah dan mencari ridha-Nya. Hak ini bersumber pada ungkapan ruhani dimana semesta alam yang ada di hadapannya merupakan penampilan al-Haq. Seluruh semesta bertasbih pada Sang Khaliq, dan menyaksikan kebesaran-Nya. Hak terhadap diri sendiri adalah menempuh kewajiban agar sampai pada tingkah laku ruhani dengan cara berakhlak yang dilandaskan pada sifat-sifat al-Haq, dan upaya penyucian dalam taman Zat-Nya.



Meski demikian, tak sedikit yang menilai pandangan-pandangan filsafat tasawuf Ibnu 'Araby, terutama kaum fuqaha' dan ahli hadis, sebagai sangat kontroversial. Sebut saja, misalnya, teorinya tentang Wahdatul Wujud yang dianggap condong pada pantheisme. Salah satu sebabnya adalah lantaran dalam karya-karyanya itu Ibnu 'Araby banyak menggunakan bahasa-bahasa simbolik yang sulit dimengerti khususnya kalangan awam. Karenanya, tidak sedikit yang mengganggap 'Araby telah kufur, misalnya Ibnu Taymiyah, dan beberapa pengikutnya yang menilainya sebaga 'kafir'. Memang pada akhirnya Ibnu Taimiyah menerima pandangan Ibnu 'Araby setelah bertemu dengan Taqyuddin Ibnu Athaillah as-Sakandari asy-Syadzily di sebuah masjid di Kairo, yang menjelaskan makna-makna metafora Ibnu 'Araby. "Kalau begitu yang sesat itu adalah pandangan pengikut Ibnu 'Araby yang tidak memahami makna sebenarnya," komentar Ibnu Taimiyah.



Menurut penelitian para ulama dan orientalis, Ibnu Araby mempunyai sedikitnya 560 kitab dalam berbagai disiplin ilmu keagamaan dan umum. Malah ada yang mengatakan, termasuk risalah-risalah kecilnya, mencapai 2.000 judul. Kitab tafsirnya yang terkenal adalah Tafsir al-Kabir yang terdiri 90 jilid, dan ensiklopedi tentang penafsiran sufistik, yang paling masyhur, yakni Futuhatul Makkiyah (8 jilid), serta Futuhatul Madaniyah. Sementara karya yang tergolong paling sulit dan penuh metafora adalah Fushushul Hikam. Dalam lentera karya dan pemikirannya itulah, ia begitu kuat mewarnai dunia intelektualisme Islam universal.

Hujjatul Islam Imam Ghazali



Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad al Ghazali ath Thusi asy Syafi'i, dilahirkan pada tahun 450 H / 1059 di Thus daerah Khurasan Iran. Ia dikenal dengan Al - Ghazali karena ayahnya pemintal tenun wol atau karena ia berasal dari desa Ghazalah. Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi'i. Beliau seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli fikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia.
Pendidikannya dimulai didaerahnya yaitu belajar kepada Ahmad Ibnu Muhammad al Razkani al - Thusi, setelah itu pindah ke Jurjan ke pendidikan yang dipimpin oleh Abu Nash al-Ismaili mempelajari semua bidang agama dan bahasa, setelah tamat kembali ke Thus belajar tasawuf dengan Syekh Yusuf al - Nassaj (wafat 487 H) , kemudian ke Nisyapur belajar kepada Abul Ma'al al-Juwaini yang bergelar Imam al - Haramain dan melanjutkan pelajaran Tasawuf kepada Syekh Abu Ali al-Fadhl Ibnu Muhammad Ibnu Ali al-Farmadi, mulai mengajar dan menulis dalam Ilmu Fiqh. Beliau pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad.
Setelah Imam al - Juwaini wafat ia pindah ke Mu'askar mengikuti berbagai forum diskusi dan seminar kalangan ulama dan intelektual dan dengan segala kecermelangannya membawanya menjadi guru besar di perguruan Nidzamiyah di Baghdad pada tahun 484 H, disamping memberikan kuliah, ia juga mengkaji filsafat Yunani dan filsafat Islam. Kecermelangan, keharuman namanya dan kesenangan duniawi yang melimpah ruah di Baghdad melebihi ketika ia di Mu'askar, dikota ini ia sakit dan secara tiba-tiba meninggalkan Baghdad mengundurkan diri dari kegemerlapan duniawi tersebut.
Mulai th 488 H/ 1095 ia ke Damaskus. di Masjid Umawi ia ber'itiqaf dan berzikir dipuncak menara sebelah barat sepanjang hari dengan makan dan minum yang terbatas. Ia memasuki suluk sufi dengan riyadhah dan mujahadah terus menerus seperti itu selama 2 tahun di Damaskus. Setelah itu pergi ke Baitul Maqdis di Palestina, setiap hari ia masuk Qubbah Shahrah untuk berzikir, ia juga ke al - Khalil berziarah ke makam Nabi Ibrahim as. Setelah dari Palestina, ia melaksanakan ibadah haji di Mekkah dan berziarah ke makam Rasullulah di Madinah. Ia pernah kembali ke Baghdad untuk mengajar di Perguruan Nidzamiyah Baghdad dan kemudian kembali ke Thus mendirikan khanaqah untuk para sufi dan mendirikan madrasah untuk mengajar ilmu Tasawuf.
Karya - karya tulis Al-Ghazali meliputi berbagai bidang keislaman, Kalam, Fiqh, Filsafat, Tasawuf dan lain lainnya yang berbentuk buku maupun risalah. Kitab kitab Al -Ghazali yang membahas tentang Tasawuf : 1. Mizan al 'Amal, 2. Al - Ma'arif al-Aqliah wa Lubab al - Hikmah al Ilahiyah. 3. Ihya 'Ulumiddin, 4. Al - Maqshad al - Astna Fi Syarh Asma al Husna, 5. Bidayat al Hidayah, 6. Al - Madhnun Bih 'ala Ghairi Ahlil, 7. Kaimiya al Sa'adah, 8. Misykat al Anwar, 9. Al - Kasyf Wa al - Tabyin Fi Ghurur al - Naas Ajma'in, 10. Al - Munqidz Min al Dhalal, 11. Al - Durrat al Fakhirah Fi Kasyf 'Ulumi al Akhirah, 12. Minhaj al - 'Abidin Ila Jannati Rabbi al 'Alamin, 13 Al - Arba'in Fi Ushul al Din
Tasawuf Al - Ghazali menghimpun akidah, syariat dan akhlak dalam suatu sistematika yang kuat dan amat berbobot, karena teori - teori tasawufnya lahir dari kajian dan pengalaman pribadi setelah melaksanakan suluk dalam riyadhah dan mujahadah yang intensif dan berkesinambungan, sehingga dapat dikatakan bahwa seumur hidupnya ia bertasawuf. Dalam pandangannya, Ilmu Tasawuf mengandung 2 bagian penting, pertama menyangkut ilmu mu'amalah dan bagian kedua menyangkut ilmu mukasyafah, hal ini diuraikan dalam karyanya Ihya 'Ulumiddin, Al -Ghazali menyusun menjadi 4 bab utama dan masing-masing dibagi lagi kedalam 10 pasal yaitu : Bab 1 : tentang ibadah (rubu' al - ibadah) Bab 2 : tentang adat istiadat (rubu' al - adat) Bab 3 : tentang hal -hal yang mencelakakan (rubu' al - muhlikat) Bab 4 : tentang maqamat dan ahwal (rubu' al - munjiyat)
Menurutnya, perjalanan tasawuf itu pada hakekatnya adalah pembersihan diri dan pembeningan hati terus menerus sehingga mampu mencapai musyahadah. Oleh karena itu ia menekankan pentingnya pelatihan jiwa, penempaan moral atau akhlak yang terpuji baik disisi manusia maupun Tuhan. Imam Al Ghazali yang bergelar Hujjatul Islam meninggal dikota kelahirannya Thus pada hari Senin 14 Jumadil Akhir 505 H/1111M. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.

Sunday, October 21, 2012

Islam dan Industri Kertas




Buku adalah jendela dunia. Sebagai sarana utama dalam transformasi pengetahuan, buku memiliki peran vital dalam sejarah kemajuan intelektual umat manusia.

Komponen utama buku, kertas, tidak bisa kita kesampingkan dalam hal ini. Sejarah membuktikan bahwa ditemukannya kertas menjadi titik kebangkitan intelektual, di mana umat Islam menjadi aktor utama di baliknya.
Mengingat besarnya peran kertas dalam sejarah peradaban manusia, tak heran bila Michael Hart memasukkan Ts’ai Lun, sang penemu kertas, dalam urutan ke-7 dalam daftar 100 tokoh paling berpengaruh dalam bukunya.
Tulisan berikut akan mengurai sedikit hal mengenai asal mula kertas dan sejarah perkembangannya, termasuk peran umat Islam di balik industri pembuatan kertas.

 
Ditemukan di Cina
Sebelum kertas ditemukan, manusia kuno menulis isi pikiran mereka di atas batu dan tulang belulang. Menulis di atas batu telah dilakukan bengsa Sumeria sejak 3.000 tahun SM. Pertengahan milenium kedua SM, orang-orang Khaldea dari Babylonia Kuno diketahui menulis di tanah liat.
Bangsa Romawi menggunakan perunggu untuk mencatat. Pada Abad ke-9 SM, buku-buku besar tersusun dari lembaran-lembaran kayu telah dipakai sebelum masa Homer. Sementara masyarakat Mesir kuno menggunakan papirus untuk menulis dan menggambar. Papirus—tanaman air yang banyak ditemukan di tepi sungai Nil—sudah menyerupai kertas. “Kertas” orang Mesir ini berkembang dengan pesat pada Abad ke-3 SM hingga 5 SM. Dari kata papirus ini pula orang Barat menyebut kertas dengan paper. Perlahan penggunaan papirus mulai berkurang ketika bangsa Mesir mulai beralih ke kulit binatang.
Kertas pertama kali ditemukan di Cina pada era kekuasaan kaisar Ho-Ti dari Dinasti Han. Konon, menurut sejarah lama Cina, cikal-bakal pembuatan kertas mulai dikembangkan seorang pejabat pemerintah bernama Ts’ai Lun pada tahun 105 M. Kertas yang dibuat Ts’ai Lun berasal dari kulit pohon murbei. Meski begitu, banyak pula yang meragukan Ts’ai Lun sebagai penemu kertas.

Meski dokumen-dokumen sejarah lama Cina secara hati-hati dan eksplisit menyebut Ts’ai Lun sebagai penemu kertas. Namun, pastinya ide dan produk kertas tak muncul secara serta merta,” papar Sukey Hughes dalam buku Washi The World of Japanese Paper. Terlebih, peradaban Cina sudah mulai mengenal kertas sejak tahun 100 SM.

Selain peradaban Cina, konon bangsa India pun sejak awal Abad ke-5 M juga sudah mengenal kertas. Abad ke-7, pembuatan kertas sudah menjangkau negeri Jepang melalui Korea.

Mulai Dikenal Islam
Menurut Ziauddin Sardar, kertas kali pertama dikenal di dunia Islam pada Abd ke-8 M. di Samarkand, Irak. Teknologi industri kertas mulai berkembang di dunia Islam setelah Pertemuan Talas pada 751 M., sebuah pertemuan yang menjadi awal mula dominasi Islam di wilayah Asia Tengah.
Pasca perang antara Dinasti Abbasiyah vs Dinasti Tang tersebut, kaum Muslimin menawan orang Cina yang memiliki keterampilan membuat kertas. Mereka diberi fasilitas untuk mengembangkan keterampilan mereka. Sayangya, proses pembuatan kertas yang diperkenalkan orang-orang Cina itu tak bisa dilanjutkan, lantaran tak ada kulit pohon murbei di negeri-negeri Islam.

Para ilmuan Muslim pun memutar otak. Akhirnya terciptalah sebuah ide brilian. Mereka memperkenalkan penemuan baru dan inovasi yang mengubah keterampalian membuat kertas menjadi sebuah industri. Kulit pohon murbei diganti dengan pohon linen, kapas, dan serat.
Selain itu, para ilmuan Muslim juga memperkenalkan bambu yang digunakan untuk mengeringkan lembaran kertas ketika masih lembab. Inovasi lainnya, proses permentasi untuk mempercepat pemotongan linen dan serat dengan menambahkan pemutih atau bahan kimiawi lainnya.
Proses pembuatan kertas juga menggunakan palu penempa besar untuk menggiling bahan-bahan yang akan dihaluskan. Awalnya, proses ini melibatkan para pekerja ahli. Namun, seiring ditemukannya kincir air di Jativa, Spanyol pada 1151 M., palu penempa tak lagi digerakkan tenaga manusia. Sejak itu penggilingan bahan-bahan menggunakan tenaga air.
Tak lama kemudian, orang-orang Muslim memperkenalkan proses pemotongan kertas dengan kanji gandum. Proses ini mampu menghasilkan permukaan kertas yang cocok untuk ditulis dengan tinta. Sejak itu, industri kertas menyebar dengan cepat ke negeri-negeri Muslim.
Menjadi Sebuah Industri

Pada tahun 793 M., Khalifah Haruan ar-Rasyid membangun sebuah percetakan kertas di Baghdad. Pabrik-pabrik kertas lainnya kemudian bermunculan di Damaskus, Tiberia, Tripoli, Kairo, Fez, Sisilia, Jativa, Valencia, dan di berbagai belahan dunia Islam lainnya.
Wazir Dinasti Abbasiyah, Ja’far Ibnu Yahya, mulai mengganti perkamen (kulit binatang) dengan kertas di kantor-kantor pemerintahan. Pada Abad  ke-10, berdiri pabrik kertas yang mengapung di sungai Tigris. Kertas pun begitu popular di dunia Islam dari India sampai Spanyol.
Saking populernya kertas, seorang petualang Persia pada tahun 1040 mencatat, di Kairo para pedagang sayuran dan rempah-rempah sudah menggunakan kertas untuk membungkus barang dagangan. Padahal, pada saat itu Eropa sama sekali belum mengenal kertas. Eropa yang tengah dicekam kegelapan masih memakai perkamen.
Orang Barat baru mengenal kertas beberapa ratus tahun setelah orang Muslim menggunakannya. Pabrik kertas pertama di Eropa dibangun pada 1276 M di Fabrino, Italia. Seabad kemudian, berdiri pabrik kertas di Nuremberg Jerman. Barat mempelajari tata cara membuat kertas, setelah Kristen menginvasi Spanyol Islam. Setelah kejayaan Islam redup, Barat akhirnya mendominasi industri kertas.

Puncaknya, pada mediaum Abad ke-15 M., Johan Gutenberg mencetak Bible, di mana hal itu menjadi gerbang dibukanya industri percetakan buku, dan dari sinilah kebangkitan intelaktual dunia Barat dumulai.

 
Jasa Islam
Umat Islam turut memberikan sumbangsih besar dalam sejarah perkembangan kertas. Cedekiawan Muslim, Ziauddin Sardar, menyebut bahwa industri pembuatan kertas yang dikembangkan pada masa kejayaan Islam merupakan peristiwa paling revolusioner dalam sejarah manusia.
Produksi kertas tak hanya memberi rangsangan luar biasa untuk menuntut ilmu, tatapi mambuat harga buku semakin murah dan mudah diperoleh. Hasil akhirnya adalah revolusi budaya,” ujar Ziauddin Sardar. Menurutnya, produksi buku dalam skala yang tak pernah terjadi sebelumnya membuat konsep ilmu bertranformasi menjadi sebuah praktik yang benar-benar distributif.
Bermunculnya industri kertas pada kejayaan Islam juga telah melahirkan sejumlah profesi baru. Salah satunya adalah profesi warrâq. Mereka mejual kertas dan berperan sebagai agen. Selain itu, warrâqin juga bekerja sebagai penulis dan menyalin berbagai manuskrip yang dipesan para pelanggannya. Mereka juga menjual buku dan membuka toko buku.

Menurut Sardar, sebagai agen, warrâqin juga sering membuat sendiri kertas untuk mencetak buku. Sebagai penjual buku, warrâqin mengatur segalanya, mulai dari mendirikan kios di pinggir jalan hingga toko-toko besar yang nyaman jauh dari debu-debu pasar. Kios-kios buku itu umumnya berdiri di jantung kota-kota besar, seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Granada, dan Fez.

Seorang sarjana muslim al-Ya’qubi dalam catatannya mengungkapkan pada Abad ke-9, di pinggir kota Baghdad terdapat tak kurang dari 100 kios buku. Di toko-toko buku besar, kerap berlangsung diskusi informal bedah buku. Acara itu dihadiri para penulis dan pemikir terkemuka.

Sardar menuturkan, salah satu toko buku terkemuka dalam sejarah Islam adalah milik an-Nadim (w. 990 M) di Baghdad. Toko buku milik ilmuan penganut Syiah itu dipenuhi manuskrip dan dikenal sebagai tempat pertemuan para pemikir, penyair terkemuka pada masanya. Katalog buku-buku yang ada di tokonya, al-Fihrisat dilengkapi dengan catatan kritis. Katalog itu dikenal sebagai ensiklopedia kebudayaan Islam abad pertengahan.

Industri buku pun berkembang semakin pesat, membuka jalan untuk pembangunan perpustakaan-perpustakaan besar yang kelak akan dikenang sebagai gerbang kemajuan.Wallâhu a’lam…

Sumber: sidogiri.net